Keutamaan Amal di Atas Nasab
Keutamaan Amal di Atas Nasab adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 24 Syawal 1447 H / 13 April 2026 M.
Kajian Tentang Keutamaan Amal di Atas Nasab
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan bagi mereka azab dunia, azab kubur, dan azab akhirat. Hal ini merupakan balasan yang setimpal atas perbuatan mereka, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا
“Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain Allah.” (QS. Nuh [71]: 25)
Kesalahan mereka telah melampaui batas karena mengingkari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memaksiati Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Meskipun dakwah telah disampaikan selama 950 tahun, mereka tetap memilih untuk membangkang sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakan mereka tanpa ada seorang pun yang mampu menolong.
Keselamatan Pengikut Nabi Nuh sebagai Tanda Kebesaran Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kebinasaan kaum Nabi Nuh serta keselamatan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam bersama para pengikutnya yang sedikit di dalam bahtera sebagai ibrah bagi orang-orang yang mau berpikir. Peristiwa tersebut merupakan ayat atau tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi siapa saja yang ingin mengambil nasihat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِۦ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ ٱلطُّوفَانُ وَهُمْ ظَٰلِمُونَ فَأَنجَيْنَٰهُ وَأَصْحَٰبَ ٱلسَّفِينَةِ وَجَعَلْنَٰهَا ءَايَةً لِّلْعَٰلَمِينَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang berada di dalam kapal itu, dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semesta alam.” (QS. Al-Ankabut [29]: 14-15)
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam telah menjalankan tugas dakwahnya dalam waktu yang sangat panjang, namun kaumnya tetap dalam kezaliman hingga azab banjir bandang (tufan) datang menimpa. Penyelamatan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dan para penghuni bahtera (ashabus safinah) menjadi bukti nyata kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang abadi bagi seluruh alam.
Pentingnya Mengambil Pelajaran dari Sejarah Umat Terdahulu
Orang yang berakal adalah orang yang mampu mengambil pelajaran dari pengalaman selain dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk memperhatikan kejadian-kejadian di muka bumi sebagai bahan renungan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj [22]: 46)
Ayat ini memerintahkan setiap insan untuk mengambil pelajaran. Melalui kisah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, nampak jelas bahwa orang yang patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti Rasul-Nya akan selamat. Sebagai umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kewajiban serupa harus dijalankan. Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala lakukan kepada kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dapat terjadi pula kepada siapa pun yang membangkang terhadap aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Bahtera Nuh
Imam Malik rahimahullahu ta’ala pernah menyampaikan perumpamaan yang sangat indah mengenai kedudukan sunnah:
السُّنَّةُ مِثْلُ سَفِينَةِ نُوحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ
“Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagaikan perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang naik ke perahu tersebut akan selamat, dan barang siapa yang tidak mau naik akan tenggelam.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa orang yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan meraih keselamatan, sedangkan orang yang meninggalkannya akan binasa. Hal ini mewajibkan orang-orang muslim maupun umat yang belum beriman di masa sekarang untuk mengambil ibrah dari kaum-kaum terdahulu.
Azab yang Setimpal bagi Para Pelaku Dosa
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan gambaran mengenai berbagai macam siksaan yang ditimpakan sesuai dengan kemaksiatan yang dilakukan manusia. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ankabut [29]: 40)
Allah Subhanahu wa Ta’ala sama sekali tidak menzalimi mereka; justru diri merekalah yang melakukan kezaliman. Oleh karena itu, bagi setiap orang dimanapun tempatnya dan kapan pun masanya, hendaknya mengambil pelajaran dari binasanya kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Hendaknya setiap jiwa beriman sebelum tertimpa azab yang serupa, sehingga tidak muncul penyesalan di waktu yang sudah tidak bermanfaat lagi.
Terkait pintu taubat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُوا إِن يَنتَهُوا يُغْفَرْ لَهُم مَّا قَدْ سَلَفَ وَإِن يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ
“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: ‘Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang terdahulu’.” (QS. Al-Anfal [8]: 38)
Jika kekafiran ditinggalkan, maka dosa masa lalu akan diampuni. Namun, jika mereka kembali kepada kekafiran, maka ketentuan azab yang menimpa orang-orang terdahulu akan kembali berlaku.
Peringatan bagi Pelaku Maksiat dan Hakikat Sebab Kehidupan
Ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan senantiasa berlaku bagi orang kafir yang menentang-Nya, yakni mereka akan mendapatkan azab. Oleh karena itu, bagi orang-orang bermaksiat di antara kaum mukminin, hendaknya segera bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum kesempatan itu luput. Penyesalan di masa mendatang tidak akan memberikan manfaat sedikit pun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَٱلَّذِينَ عَمِلُوا۟ ٱلسَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا۟ مِنۢ بَعْدِهَا وَءَامَنُوٓا۟ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertobat sesudahnya dan beriman; sesungguhnya Rabbmu sesudah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-A’raf [7]: 153)
Nasihat ini ditujukan kepada semua pihak; kepada orang kafir agar segera masuk Islam dan beriman, serta kepada orang beriman yang terjerumus maksiat agar segera kembali kepada jalan yang benar.
Sebab Kehidupan sebagai Sebab Kebinasaan
Pelajaran kedua yang dapat diambil adalah -atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala- hal-hal yang menjadi sumber kehidupan dapat berubah menjadi sebab kematian, kebinasaan, dan kehancuran. Unsur utama pendukung kehidupan manusia meliputi tanah (bumi), air, udara (angin), dan api.
1. Bumi (Tanah) Bumi adalah hamparan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tundukkan untuk manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَلَمْ نَجْعَلِ ٱلْأَرْضَ مِهَٰدًا وَٱلْجِبَالَ أَوْتَادًا
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba’ [78]: 6-7)
2. Air Air merupakan sumber utama segala jenis kehidupan di muka bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya [21]: 30)
3. Udara dan Angin Udara merupakan sumber kehidupan yang berfungsi untuk membantu penyerbukan hingga mendatangkan kabar gembira berupa hujan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَرْسَلْنَا ٱلرِّيَٰحَ لَوَٰكِحَ فَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَٰكُمُوهُ وَمَآ أَنتُمْ لَهُۥ بِخَٰزِنِينَ
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. Al-Hijr [15]: 22)
Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan peran angin dalam membawa rahmat:
وَهُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ ٱلرِّيَٰحَ بُشْرًۢا بَيْنَ يَدَىْ رَحْمَتِهِۦ ۚ وَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَاءً طَهُورًا
“Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih.” (QS. Al-Furqan [25]: 48)
4. Api Api merupakan nikmat yang sangat dibutuhkan manusia. Keberadaan kayu sebagai bahan bakar api adalah murni ciptaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَفَرَءَيْتُمُ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى تُورُونَ ءَأَنتُمْ أَنشَأْتُمْ شَجَرَتَهَآ أَمْ نَحْنُ ٱلْمُنشِـُٔونَ نَحْنُ جَعَلْنَٰهَا تَذْكِرَةً وَمَتَٰعًا لِّلْمُقْوِينَ
“Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kami-kah yang menjadikannya? Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir.” (QS. Al-Waqi’ah [56]: 71-73)
Segala unsur di atas adalah sebab kehidupan yang dianugerahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, manusia harus menyadari bahwa Zat yang menciptakan sebab-sebab tersebut juga berkuasa merubahnya menjadi perantara azab dan kehancuran apabila manusia berpaling dari jalan-Nya.
Segala unsur yang menjadi penunjang kehidupan manusia dapat diubah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi perantara azab bagi mereka yang membangkang. Sebab-sebab kehidupan (asbabul hayah) dapat dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai sebab kematian, kebinasaan, dan kehancuran (asbaban lil maut wal halak wad damar).
Kenikmatan yang dimiliki manusia, baik berupa rumah maupun kendaraan, jika tidak disyukuri atau justru digunakan untuk bermaksiat, dapat menjadi penyebab kecelakaan dan kebinasaan atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang harus berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar segala fasilitas duniawi tidak berubah menjadi malapetaka.
Bumi sebagai Perantara Kebinasaan
Melalui bumi yang dipijak manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakan Qarun. Qarun adalah sosok yang sangat kaya raya hingga kunci-kunci gudang hartanya tidak sanggup dipikul kecuali oleh sekelompok orang kuat. Namun, kekayaan tersebut membuatnya sombong dan angkuh di muka bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَخَسَفْنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُنتَصِرِينَ
“Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.” (QS. Al-Qasas [28]: 81)
Fenomena tanah amblas atau terbelah merupakan hal yang sangat mudah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala keteraturan di bumi, langit, matahari, dan bintang-bintang membuktikan keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Zat yang Maha Mengatur. Allah yang menciptakan bumi tentu sanggup menenggelamkan siapapun ke dalamnya.
Air sebagai Perantara Kebinasaan
Selain bumi, air juga menjadi instrumen azab. Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakan kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam serta Firaun beserta bala tentaranya melalui air. Kesombongan Firaun yang merasa tidak akan dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi penyebab kehancurannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَٱسۡتَكۡبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُۥ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُمۡ إِلَيۡنَا لَا يُرۡجَعُونَ فَأَخَذْنَٰهُ وَجُنُودَهُۥ فَنَبَذْنَٰهُمْ فِى ٱلْيَمِّ ۖ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلظَّٰلِمِينَ
“dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami hukum dia (Firaun) dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qasas [28]: 39-40)
Firaun dan tentaranya bersikap sombong di muka bumi tanpa alasan yang benar. Mereka menyangka tidak akan dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala menenggelamkan mereka semua di laut sebagai peringatan bagi orang-orang yang zalim.
Udara dan Angin (hawa) sebagai Perantara Kebinasaan
Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakan kaum Ad, yaitu kaum Nabi Hud ‘Alaihis Salam, dengan menggunakan angin. Fenomena ini dijelaskan dalam Al-Qur’an:
وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ
“Adapun kaum Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang.” (QS. Al-Haqqah [69]: 6)
Menurut tafsir Syekh Nasir As-Sa’di, angin sar-sar adalah angin yang sangat keras, kencang, dan mengeluarkan suara menggelegar seperti halilintar yang mampu merobohkan apa pun yang dilewatinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan angin tersebut kepada kaum Ad selama tujuh malam dan delapan hari secara terus-menerus. Akibatnya, mereka mati bergelimpangan hingga tidak ada satupun yang tersisa. Hal ini menunjukkan bahwa jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak mengazab suatu kaum, maka cara-Nya sangat mengerikan.
Api dan Lahar sebagai Sebab Kehancuran
Selain angin, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga dapat membinasakan orang-orang kafir dan pelaku dosa melalui api. Salah satu bentuknya adalah melalui lahar panas (barakin) yang keluar dari perut bumi melalui letusan gunung berapi. Lahar tersebut memiliki daya hancur yang luar biasa hingga mampu melenyapkan seluruh negeri.
Segala unsur yang merupakan sebab kehidupan (asbabul hayah) dapat diubah oleh Allah ‘Azza wa Jalla menjadi sebab kematian, kebinasaan, dan kehancuran. Oleh karena itu, setiap insan diperintahkan untuk mengambil pelajaran (ibrah),.
Satu-satunya jalan keselamatan adalah kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika seseorang merasa takut kepada Allah, ia tidak boleh lari menjauh, melainkan harus lari menuju kepada-Nya dengan beristigfar dan memohon ampunan. Sangat mudah bagi Allah ‘Azza wa Jalla untuk membinasakan orang-orang zalim melalui sesuatu yang justru mereka banggakan atau sukai.
Keutamaan Amal di Atas Nasab
Pelajaran ketiga yang sangat penting adalah bahwa kedudukan seseorang ditentukan oleh amalnya, bukan oleh garis keturunannya.
Nasab atau garis keturunan tidak memberikan manfaat di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala jika tidak disertai dengan iman dan amal saleh. Status sebagai keturunan ningrat, kiai, ustaz, maupun habib tidak akan berguna jika amalnya buruk. Seseorang yang amal buruknya membuatnya tertinggal dan lalai dari melakukan kebaikan, maka kemuliaan nenek moyangnya tidak akan mampu menolongnya di akhirat kelak.
Kebahagiaan di dunia dan akhirat hanya dapat diraih melalui amal baik yang dibangun di atas landasan iman yang benar. Kehormatan keluarga tidak dapat menggantikan pertanggungjawaban pribadi setiap individu di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di akhirat kelak, kemuliaan nasab dan keutamaan garis keturunan tidak akan memberikan manfaat sedikit pun. Seseorang tidak dapat membanggakan status sosialnya, baik sebagai keturunan bangsawan, darah biru, maupun keturunan ulama. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menegaskan bahwa tidak ada keutamaan antara orang Arab atas orang ajam (non-Arab), begitu pula sebaliknya.
Seseorang yang amalnya buruk akan tertinggal di akhirat, dan kemuliaan nasabnya tidak akan mampu mempercepat langkahnya menuju surga. Sebaliknya, orang yang senantiasa melakukan ketaatan akan didahulukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, meskipun ia merupakan seorang budak Habsyi. Kedudukan budak yang taat tersebut jauh lebih mulia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dibandingkan seorang keturunan Quraisy yang tidak beramal saleh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Penentu utama kemuliaan seorang hamba adalah iman, aqidah, manhaj, akhlak, dan kepatuhannya terhadap sunnah. Oleh karena itu, seseorang tidak sepatutnya terpesona hanya oleh pengakuan nasab jika tidak dibarengi dengan amal yang baik serta lisan yang terjaga.
Peringatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Keluarga Terdekat
Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan perintah untuk memberi peringatan kepada kerabat terdekat, sebagaimana firman-Nya:
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 214)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri di atas bukit Safa dan berseru kepada kaumnya agar mereka menjaga diri dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau menegaskan bahwa beliau tidak dapat memberikan manfaat sedikitpun di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala jika mereka tidak beriman. Beliau memanggil keturunan Abdul Muthalib, kemudian memanggil paman beliau, Abbas bin Abdul Muthalib, serta bibi beliau, Shafiyah. Beliau menyampaikan bahwa beliau tidak memiliki kuasa untuk menolong mereka dari keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bahkan kepada putri tercinta, beliau bersabda:
يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
“Wahai Fatimah putri Rasulullah, mintalah kepadaku apa saja dari hartaku, namun aku tidak bisa memberikan manfaat sedikitpun kepadamu dari (azab) Allah.” (HR. Bukhari)
Pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini menjadi teguran keras bagi siapa pun yang bersandar pada kemuliaan nasab namun mengabaikan akhlak dan syariat. Keselamatan setiap individu bergantung pada ketakwaannya sendiri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Klasifikasi Nasab: Hubungan Manusia di Dunia dan Akhirat
Terdapat faedah penting mengenai hubungan antarmanusia atau nasab. Penulis rahimahullahu taala, Syekh Abu Islam, menjelaskan bahwa nasab yang mengikat manusia terbagi menjadi dua jenis:
1. Nasab Muwaqqat (Nasab Sementara)
Nasab ini adalah hubungan yang hanya memberikan manfaat selama hidup di dunia saja dan tidak memiliki pengaruh atau nilai pada hari kiamat apabila tidak didasari oleh iman. Hubungan ini mencakup nasab darah, kedagingan, serta kekerabatan suku atau klan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ
“Apabila sangkakala ditiupkan maka tidak ada lagi hubungan nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 101)
Pada hari yang sangat dahsyat tersebut, seseorang akan lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, hingga istri dan anak-anaknya. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga hubungan darah tidak lagi menjadi penolong. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan hal ini dalam Al-Qur’an:
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. Abasa [80]: 34-37)
2. Nasab Muabbad (Nasab Abadi)
Nasab ini bersifat langgeng dan memberikan manfaat bagi pemiliknya, baik di dunia maupun di akhirat. Hubungan ini didasarkan pada iman, ketaatan, dan ukhuwah (persaudaraan) karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memiliki sahabat yang saleh adalah nikmat yang lebih baik daripada dunia beserta isinya, karena mereka akan saling mengingatkan dalam kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)
Persaudaraan atas dasar iman merupakan anugerah besar. Dahulu, kaum Aus dan Khazraj saling berperang, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatukan hati mereka melalui Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَأَصْبَحْتُمْ بِنِيكْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Maka jadilah kamu sekalian dengan nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran [3]: 103)
Pertemanan yang Kekal hingga Akhirat
Pada hari kiamat, semua pertemanan yang didasari oleh kepentingan duniawi seperti karena harta, jabatan, atau urusan bisnis akan berubah menjadi permusuhan. Satu-satunya pertemanan yang akan bertahan hingga akhirat hanyalah pertemanan orang-orang yang bertakwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 67)
Dua orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertemu dan berpisah karena-Nya, akan mendapatkan perlindungan istimewa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa mereka termasuk dalam tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ
“Dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul karena-Nya dan berpisah pun karena-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Keutamaan Amal di Atas Nasab” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56158-keutamaan-amal-di-atas-nasab/